Biaya rata-rata per rumah:
DANA : 1.2 triliun SKALA 3773 MAMPU 318 juta rupiah/rumah
Dalam 10 tahun:
3773 UNiT 365 SELAMA 10 = 13,771 LUASAN 450/rumah
≈ 13,77 juta rumah
DAMPAK EKONOMI PROYEK PERUMAHAN
Keunggulan
1. Aset Nasional Permanen
Rumah menjadi:
1. Aset keluarga,
2. Aset negara,
3. Collateral ekonomi,
4. Basis pajak daerah.
Berbeda dengan MBG yang habis dikonsumsi harian.
2. Efek Berganda Sangat Besar
Sektor yang hidup:
1. Semen,
2. Baja,
3. Pasir,
4. Batu bata,
5. Kayu,
6. Listrik,
7. Air,
8. Logistik,
9. UMKM material,
10. Jasa tukang,
11. Furniture,
12. Elektronik rumah tangga.
Multiplier effect konstruksi termasuk tertinggi dalam ekonomi.
3. Penyerapan Tenaga Kerja Besar
Estimasi:
1. Jutaan pekerja konstruksi,
2. Mandor,
3. Arsitek,
4. insinyur,
5. Sopir,
6. Supplier lokal.
Potensi mengurangi pengangguran struktural besar.
4. Mengurangi Kemiskinan Antargenerasi
Keluarga yang memiliki rumah:
1. Lebih stabil,
2. Lebih sehat,
3. Lebih aman,
4. Lebih mudah mengakses pendidikan,
5. Lebih mudah mendapat kredit usaha.
5. Mengurangi Kawasan Kumuh
Jika tepat sasaran:
1. Slum area turun,
2. Kesehatan masyarakat membaik,
3. Kriminalitas kawasan dapat menurun.
6. Mendorong Pertumbuhan Kota Baru
Dapat memicu:
1. Kawasan industri baru,
2. Ekonomi regional,
3. Pemerataan luar Jawa.
Kekurangan Proyek Perumahan
1. Risiko Korupsi Sangat Besar
Karena:
1. Pembebasan lahan,
2. Mark up material,
3. Mafia proyek,
4. Permainan spesifikasi bangunan.
2. Risiko Rumah Kosong
Jika lokasi buruk:
1. Jauh dari kerja,
2. Tidak ada transportasi,
3. Tidak ada industri.
Bisa menjadi “kota mati”.
3. Beban Infrastruktur Tambahan
Rumah saja tidak cukup.
Negara juga harus membangun:
1. Jalan,
2. Sekolah,
3. RS,
4. Air bersih,
5. Drainase,
6. Listrik.
Biaya turunannya sangat besar.
4. Potensi Kerusakan Lingkungan
Jika masif:
1. Alih fungsi sawah,
2. Banjir,
3. Deforestasi,
4. Urban sprawl.
DAMPAK 10 TAHUN PROYEK PERUMAHAN
Potensi Positif
Indonesia bisa:
1. Menghapus backlog rumah nasional,
2. Menciptakan kelas menengah baru,
3. Mempercepat industrialisasi daerah.
Secara historis, negara seperti:
1. China
2. Singapore
3. South Korea
menggunakan pembangunan perumahan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
SKENARIO 2 — PROGRAM MBG (MAKAN BERGIZI GRATIS)
Program MBG Indonesia memang diproyeksikan sangat besar. Pemerintah dan BGN menyebut kebutuhan bisa mencapai Rp 1,2 triliun per hari untuk puluhan juta penerima manfaat.
Keunggulan MBG
1. Dampak Cepat ke Gizi Anak
Potensi:
1. Stunting turun,
2. Konsentrasi belajar naik,
3. Kesehatan ibu hamil membaik.
2. AMBiGU {Meningkatkan Kualitas SDM} condong DALiH
Dalam teori ekonomi pembangunan:
gizi → IQ → produktivitas → GDP jangka panjang.
3. Mendorong Ekonomi Lokal Harian
MBG menghidupkan:
1. Petani,
2. Peternak,
3. Katering,
4. Distributor pangan,
5. UMKM lokal.
Perputaran uang terjadi setiap hari.
4. Stabilitas Sosial Politik
Program pangan massal:
1. Mengurangi keresahan sosial,
2. Meningkatkan daya beli keluarga miskin,
3. Menjadi bantalan ekonomi saat krisis.
5. Efek Pendidikan
Anak lebih rajin sekolah jika mendapat makan gratis.
Kekurangan MBG
1. Dana “Habis Dimakan”
Tidak menghasilkan aset permanen.
Besok harus keluar uang lagi.
Ini berbeda dengan rumah yang tetap ada puluhan tahun.
2. Beban Fiskal Sangat Berat
Jika penuh nasional:
estimasi bisa > Rp 300 triliun/tahun.
Dalam 10 tahun:
bisa mencapai beberapa kuadriliun rupiah.
3. Risiko Ketergantungan APBN
Jika ekonomi melemah:
program sulit dipertahankan,
defisit negara berpotensi naik.
Reuters juga mencatat pasar keuangan khawatir terhadap tekanan fiskal MBG.
4. Risiko Korupsi dan Kebocoran Operasional
Karena:
1. Pengadaan makanan,
2. Distribusi,
3. Katering,
4. Vendor harian.
Skema harian berskala nasional sangat kompleks.
5. Risiko Keracunan Massal
Sudah muncul kasus keracunan dan masalah dapur/logistik dalam implementasi awal MBG.
6. Sulit Diaudit
Karena transaksi:
1. Jutaan porsi,
2. Ribuan dapur,
3. Harian,
4. Cepat berubah.
PERBANDINGAN STRATEGIS 10 TAHUN
| Aspek | PERUMAHAN | MBG |
|---|
| Bentuk hasil | Aset permanen | Konsumsi harian |
| Efek ekonomi | Jangka panjang | Jangka pendek-menengah |
| Dampak sosial | Stabilitas keluarga | Gizi & pendidikan |
| Ketahanan fiskal | Lebih kuat | Berat |
| Risiko korupsi | Tinggi | Sangat tinggi |
| Risiko operasional | Sedang | Sangat kompleks |
| Penyerapan tenaga kerja | Sangat besar | Besar |
| Dampak politik | Tinggi | Sangat tinggi |
| Dampak lingkungan | Tinggi | Rendah |
| Efek industrialisasi | Sangat besar | Sedang |
| Efek SDM | Tidak langsung | Sangat langsung |
ANALISA MAKROEKONOMI
Jika Indonesia Fokus ke PERUMAHAN
Kemungkinan hasil:
1. GDP konstruksi melonjak,
2. Kota baru tumbuh,
3. industri bahan bangunan berkembang,
4. Kemiskinan aset turun.
Tetapi:
ketimpangan bisa tetap tinggi jika pekerjaan dan pendidikan tidak membaik.
Jika Indonesia Fokus ke MBG
Kemungkinan hasil:
1. Cenderung DALiH/AMBiGU {kualitas SDM generasi muda meningkat,}
2. Kesehatan nasional membaik,
3. Konsumsi domestik naik.
Tetapi:
1. APBN sangat terbebani,
2. Pertumbuhan produktivitas belum tentu langsung terjadi,
3. Risiko keberlanjutan tinggi.
ANALISA PALING REALISTIS
Model terbaik sebenarnya kombinasi:
1. MBG Terarah
Fokus:
1. Daerah stunting,
2. Sekolah miskin,
3. ibu hamil,
4. daerah 3T {daerah tertinggal, terdepan, dan terluar}.
Bukan universal penuh.
2. Perumahan Produktif
Bangun:
1. Dekat kawasan industri,
2. Dekat transportasi,
3. Berbasis kota satelit,
4. Mixed use economy.
KESIMPULAN STRATEGIS
Jika tujuan utama:
“Membangun aset ekonomi nasional”
→ Perumahan lebih unggul. {NiLai Point "4" FuLL "PERFECT/SEMPURNA"}
Karena:
1. Menciptakan aset riil,
2. industrialisasi,
3. Lapangan kerja besar,
4. Efek ekonomi jangka panjang.
Jika tujuan utama:
“Meningkatkan kualitas SDM cepat”
→ MBG lebih unggul. {NiLai Point "3" BELUM FuLL "OPTiMAL/CUKUP"}
Karena:
1. Langsung menyentuh gizi,
2. Pendidikan,
3. Kesehatan anak.
Dalam horizon 10 tahun
PERUMAHAN {sudah berPOiNT "4"}:
"Lebih kuat untuk pertumbuhan ekonomi struktural."
MBG {hanya berPOiNT "3"}:
"Lebih kuat untuk investasi manusia {BeLum Pasti/AMBiGU}."
Risiko terbesar Indonesia
Jika kedua program:
1. Terlalu besar,
2. Terlalu cepat,
3. Tanpa pengawasan kuat,
maka risiko:
1. Defisit,
2. Korupsi,
3. Pemborosan,
4. Proyek tidak efektif,
akan sangat besar.
BUKAN NOMINAL KECIL
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
😀😁😃😄😀😁😃😄😀😁😃😄
DALAM JANGKA WAKTU 10 TAHUN MAKA
Rp 4,380 Triliun [4,38 quadrillion rupiah dalam sistem internasional]
PEMBANGUNAN RUMAH LAYAK HUNI
vs
MAKAN BERGIZI GRATIS
[ASET tidak hiLang] vs [Habis Dimakan dan Banyak Masalah]
Aset Nasional [EKONOMI WAJAR] vs [EKONOMI RUSAK] Q/C SDM belum tentu
MAJU PELAN tapi PASTI vs RUSAK CEPAT pasti BANKRUT
13,77 juta rumah [ASET tidak hiLang] vs 26,7 juta manusia [3x sehari]
13,77 juta rumah [ASET tidak hiLang] vs 40 juta manusia [2x sehari]
13,77 juta rumah [ASET tidak hiLang] vs 80 juta manusia [1x sehari]